Senin, 28 Agustus 2017

Menghayati Makna Dibalik Petuah Wali Songo

Berdasarkan tutur dan riwayat para Wali Songo, diceritakan bahwa Kanjeng Sunan Maulana Malik Ibrahim   berasal dari Persia. Bahkan dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim beripar dengan raja di negeri Cheermen. Mengenai letak negeri Cheermen itu terletak di Hindustan, sedangkan ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa letaknya Cheermen adalah di Indonesia.

Adapun mengenai nama kedua orang tuanya, kapan beliau dilahirkan serta dimana, dalam hal ini belum diketahui dengan pasti. ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Kasyan (Persia). Bilamana beliau meninggal dunia ? Kalau ditilik dari batu nisan yang terdapat pada makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dekat Surabaya terukir sebagai tahun meninggalnya 882 H, atau tahun 1419 M.

Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa didaerah Jawa Timur. Dari sanalah dia memulai menyingsingkan lengan bajunya, berjuang untuk mengembangkan agama Islam.Adapun caranya pertama-tama ialah dengan jalam mendekati pergaulan dengan anak negeri. Dengan budi bahasa yang ramah tamah serta ketinggian akhlak, sebagaimana diajarkan oleh Islam, hal itu senantiasa diperlihatkannya didalam pergaulan sehari-hari.

Beliau tidak menentang secara tajam kepada agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli. Begitu pula beliau tidak menentang secara spontan terhadap adat istiadat yang ada serta berlaku dalam masyarakat kita yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha itu, melainkan beliau hanya memperlihatkan kaindahan dan ketinggian ajaran-ajaran dan didikan yang dibawa oleh Islam. Berkat keramah tamahannya serta budi bahasa dan pergaulannya yang sopan santun itulah, banyak anak negeri yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.

 2.Raden Rahmat (Sunan Ampel)
Sunan Ampel pada masa kecilnya menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, bernama Raden Rahmat, lahir pada tahun 1401 di Champa.  Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya ( kota Wonokromo sekarang)

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Raden Rahmat adalah putra Maulana Malik Ibrahim. Menurut beberapa riwayat, nama Maulana Malik Ibrahim juga dikenal sebagai Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana. Ibrahim Asmarakandi.
Sunan Ampel memiliki silsilah hingga sampai ke Nabi Muhammad SAW, yaitu :


 * Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin * Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin * Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin * Ahmad Jalaludin Khan bin* Abdullah Khan bin * Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin  * Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin  * Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)  * Ali Kholi' Qosam bin  * Alawi Ats-Tsani bin * Muhammad Sohibus Saumi'ah bin  * Alawi Awwal bin  * Ubaidullah bin  * Ahmad al-Muhajir bin  * Isa Ar-Rumi bin * Muhammad An-Naqib bin  * Ali Uraidhi bin   * Ja'far ash-Shadiq bin * Muhammad al-Baqir bin * Ali Zainal Abidin bin  * Imam Husain bin * Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad.

Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.

Sunan Ampel sebagai sunan yang “dituakan” di antara delapan Wali Songo lainnya, menjadi Surabaya sebagai pangkal kegiatan ziarah “Wali Songo”. Dan sudah umum, sebelum melakukan ziarah ke makam-makam Wali Songo, Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel dijadikan tempat start. Dari sini baru kemudian menuju ke Gresik, Lamongan, Tuban, Gunung Muria, Kudus, Demak dan finish di Cirebon.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid
Ampel, Surabaya.

3.Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Beliau adalah putera dari Sunan Ampel dalam perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putera dari Arya Teja, salam seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. menurut dugaan Sunan Bonang dilahirkan dalam tahun 1465 M, serta wafat pada tahun 1525 M.
Maulana Makhdum Ibrahim, semasa hidupnya dengan gigih giat sekali menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitarnya. sebagaimana halnya ayahnya, maka Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantran di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan ikut menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama dewa Hindu diganti dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi. Hal mana dimaksudkan untuk lebih mendekati hari rakyat guna diajak masuk agama Islam.
Karya dan Ajaran
Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).
Dalam Suluk Wujil, yang memuat ajaran Sunan Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:
Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada dalam diri
Malah jagat raya terbentang dalam diri
Jadikan dirimu Cinta
Supaya dapat kau melihat dunia (dengan jernih)
Pusatkan pikiran, heningkan cipta
Siang malam, waspadalah!
Segala yang terjadi di sekitarmu
Adalah akibat perbuatanmu juga
Kerusakan dunia ini timbul, Wujil!
Karena perbuatanmu
Kau harus mengenal yang tidak dapat binasa
Melalui pengetahuan tentang Yang Sempurna
Yang langgeng tidak lapuk
Pengetahuan ini akan membawamu menuju keluasan
Sehingga pada akhirnya mencapai TuhanSebab itu, Wujil! Kenali dirimu
Hawa nafsumu akan terlena
Apabila kau menyangkalnya
Mereka yang mengenal diri
Nafsunya terkendali
Kelemahan dirinya akan tampak
Dan dapat memperbaikinya
Dengan menyatakan `jagat terbentang dalam diri` Sunan Bonang ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi kerohaniannya. Adalah yang spiritual yang menentukan yang material, bukan sebaliknya. Tetapi karena pikiran manusia kacau, ia menyangka yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. Karena potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi.
Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.
Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.
Tamba Ati
Tamba ati iku lima sak warnane
Maca Qur'an angen-angen sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ''mencuri'' jenazah sang Sunan.

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.
4.Raden Qasim (Sunan Drajat)

Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun

Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
Jadi bilamana Sunan Drajat memberi contoh serta menganjurkan kepada rakyat, agar memiliki jiwa sosial serta menganjurkan agar supaya rakyat suka menolong para fakir dan miskin yang sedang mengalami penderitaan dan kesempitan, maka hal itu adalah sesuai dengan tuntunan agama.

5.Jaffar Shadiq (Sunan Kudus)
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro, dan Syarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto, dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.

Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.

Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah.Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.

6.Raden Paku/Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Kemudian bersama-sama dengan Maulana Makdum Ibrahim, Raden Paku oleh Sunan Ampel di suruh pergi haji ke Tanah Suci, sampai memperdalam ilmunya. Tetapi mereka sebelum sampai di tanah suci singgah terlebihdahulu di Pasai (Aceh), untuk menuntut ilmu kepada para ulama disana.
Adapun yang imaksud ilmu di sini, adalah ilmu ke Tuhanan menurut ajaran tasawuf. Konon kabarnya memang banyak ulama-ulama keturunan India dan Persia yang membuka pengajian di pasai di waktu itu. Bahkan banyak pula ulama-ulama dari Malaka juga kadang-kadang datang bertanya tentang sesuatu masalah ke Pasai. Sesudah kedua tunas muda itu selesai menuntut pelajaran di sana, merekapun kembalilah ke tanah Jawa. Raden Paku berhasil mendapat "Ilmu Laduni", sehingga gurunya di pasai memberinya nama "Ainul Yaqin".

Raden Paku sekembalinya di tanah Jawa mengajarkan agama Islam menurut bakatnya. Raden paku atau Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul yang boleh disebut pondok pesantrennya di Giri. dimana murid-muridnya terdiri pada orang-orang kecil (rakyat jelata).
Diantara permainan kanak-kanak hasil ciptaan/gubahannya adalah rupa "jitungan" atau "jelungan".

Adapun caranya adalah begini :
Anak-anak banyak, satu diantaranya menjadi "pemburu", lain-lainnya jadi "buruan" mereka ini akan 'selamat' atau 'bebas' dari terkaman 'pemburunya', apabila telah berpegangan pada 'jitungan', yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Permainan dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup, yaitu : bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa sajalah, maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman iblis (pemburunya). Di samping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang bersifat paedagogis serta berjiwa agama, Di antaranya adalah berupa 'tembung dolanan bocah' (lagu permainan anak-anak), yang berbunyi sebagai berikut :
"Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nundang bagog hangatikar", yang dalam bahasa indonesianya kira-kira begini :

"Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit".
Adapun maksud dari tembang tersebut di atas itu adalah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera orang menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang, gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
Sesudah beliau wafat, kemudian dimakamkan di atas bukit Giri (Gresik). Setelah Sunan Giri meninggal dunia, berturut-turut digantikan oleh Sunan Delem, Sunan Sedam Margi, Sunan Prapen.

7.Raden Said (Sunan Kalijogo)
Raden.Mas Syahid atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga., adalah putera dari Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban, ada pula yang mengatakan, bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sabur Tumenggung Wilatika, dikatakan dalam riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga juga memperoleh 3 orang putera, masing-masing : .R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh sunan kalijaga (periode demak) diberi motif "burung" di dalam beraneka macam. sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi, burung itu disebut "kukila" dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata : "quu" dan "qilla" atau "quuqiila", yang artinya "peliharalah ucapan (mulut)-mu.

Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya, inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju "takwo", nama tersebut berasal berasal dari kata bahasa arab "taqwa" yang artinya ta'at serta berbakti kepada Allah SWT.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

8.Raden Umar Said (Sunan Muria)
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga  yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung.

Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah tempat dia dimakamkan.

9.Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati)
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa  bernama Wali Songo. 
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon.


Selasa, 28 Maret 2017

Memahami Karakteristik Masyarakat Suku Jawa

Bila Anda orang Jawa berarti sama dengan saya. Pertanyaan lanjutan, jika Anda orang Jawa apakah Anda bangga menjadi atau terlahir sebagai orang Jawa?  

Jika jawabannya bangga, pertanyaannya kemudian (takon meneh) seberapa jauhkah Anda mengenal sejarah asal mula dan karakteristik masyarakat Jawa?

Tentu saja pertanyaan di atas tidak bermaksud memaksa Anda untuk berpikir keras, apalagi menyalahkan ketidaktahuan Anda sebagai orang Jawa. Tidak sama sekali. Maksud dari tulisan ini semata-mata hanya urun rembug untuk melengkapi tulisan-tulisan perihal suku Jawa yang sudah ada.

Mencari tahu tentang asal mula suku Jawa memang ibarat mencari jejak di air. Begitu banyak sumber dan data sejarah yang mengemukakan tentang asal mula penduduk Jawa dengan berbeda-beda. Namun di tulisan ini saya hanya mencuplik dari satu sumber saja dulu, semoga di kemudian hari saya bisa menuliskan untuk kisanak secara khusus dari berbagai versi tersebut.

Ada 2 versi yang saya cuplik untuk menjadi pengantar tulisan ini adalah yang pertama dari buku Dunia Mistik Orang Jawa : Roh, Ritual, Benda Magis karya Capt. R.P Suyono, dalam bukunya Suyono menyebutkan bahwa asal-usul Tanah Jawa baru diketahui agak jelas dari cerita tentang kedatangan seorang Brahmana dari tatar India yang bernama Aji Sengkala.

Selanjutnya dalam babad (kisah) yang lain, menurut salah satu sejarawan yang berasal dari negeri Kincir Angin, Belanda, W.L. Olthof yang berjudul asli, Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647, (Babad Tanah Jawa Mulai dari Nabi Adam Sampai Pada Tahun 1647), menjelaskan bahwa yang menjadi bapak moyang orang Jawa sekaligus rajanya ialah Batara Wisnu, yang karena ada masalah dengan ayahnya, Batara Guru, lantas Tanah Jawa dipegang oleh Batara Brahma.

Adapun silsilah raja Jawa yang kalau ditarik dari awal (menurut W.L. Olthof) adalah Nabi Adam berputera Esis, Esis berputera Nurcahya, Nurcahya berputera Nurasa, Nurasa berputera Sanghyang Wening, Sanghyang Wening berputera Sanghyang Tunggal, Sanghyang Tunggal berputera Batara Guru, Batara Guru beranak lima, Batara Sambo, Batara Brahma, Batara Maha Dewa, Batara Wisnu, dan Dewi Sri.

Jadi, seandainya kita berpegang pada hipotesa W.L. Olthof ini. Maka, jelas bahwa bapak moyangnya orang Jawa merupakan keturunannya Nabi Adam as yang ketujuh. Wallahu a’lam bishshawab.
Nah, demikian dua versi tentang asal mula suku Jawa yang mendiami pulau Jawa ini. Di kesempatan lain saya akan membahasnya lebih lanjut.

Baik, sekarang kita membahas tentang karakteristik masyarakat Jawa. Namun sebelumnya untuk menjadi pengertian untuk kita semua, bahwasanya pendiam pulau Jawa ini hidup bermacam etnis/suku/bangsa utama yang mendiaminya. Terbesar di ataranya yakni, suku Sunda, Madura, dan bisa juga kita tempatkan etnis Betawi. Kendatipun di pulau Jawa hidup berbagai macam suku, tapi untuk ketiga etnis tersebut  baik itu Sunda, Madura, dan Betawi tidak bisa kita katakan sebagai “orang Jawa”.

Namun satu hal yang pasti dan menjadi fakta yang tidak terbantahkan suku Jawa adalah suku terbesar yang ada di Indonesia. Menurut bulek wiki (wikipedia), setidaknya tak kurang dari 44% dari total populasi bersuku Jawa. Umumnya, mereka tinggal di pulau Jawa, tepatnya, Jateng, Jatim, sebagian kecil tinggal di Jabar, Jakarta, dan juga Banten.

Khusus di Banten, keberadaan suku Jawa sudah ada sejak abad 16. Mereka datang dari Demak dan Kudus untuk menguasai dan menaklukan wilayah pesisir utara Banten. Jumlah mereka sangat banyak. Setelah dikuasai, mereka membentuk kerajaan Banten. dan akhirnya membentuk satu koloni di beberapa wilayah utara Banten.

Untuk etnis Sunda tentu saya tidaklah asing karena istri saya adalah urang Sunda, ada satu kesempatan pada sebuah acara keluarga saya pernah tanya sama kerabat istri saya. saya tanyakan sama uwa istri saya apakah orang Sunda bisa dikatakan sebagai orang Jawa? Jawabannya tegas, meski dengan tersenyum. Sungkan sama saya barangkali. Jawabannya tegas, Tidak!

Pertanyaan serupa pernah juga saya tanyakan pada seorang teman dari Sumenep, Madura dan periparan saya yang asli Betawi. Jawabannya serupa, Tidak.

Nah, bertelekan pada jawaban tidak di atas, saya secara pribadi ada satu simpulan. Meskipun suku Sunda, Madura, dan Betawi mendiami pulau Jawa mereka merasa enggan disebut orang Jawa. Bisa jadi mereka (baca ketiga etnis) ini memiliki karakter khas tersendiri, baik itu tentang adat istiadat, pun bahasa.

Begini kisanak, tentu tidak berlebihan jika sematan pertama bagi karakteristik orang Jawa adalah kata Gotong Royong. Gotong royong adalah cerminan utama kehidupan sosial masyarakat Jawa. Tentu dalam hal ini juga berlaku pada kebanyakan suku lain di Indonesia secara umum. Tradisi guyub rukun atau sehati dalam kedamaian dalam laku gotong royong ini menjadi kebutuhan bagi masyarakat Jawa.

Laku gotong royong ini juga dapat kita temui dalam tradisi Suroan. Peristiwa tersebut merupakan salah satu bentuk gotong royong yang melibatkan antara pihak keraton dan masyarakat sehingga menciptakan solidaritas dan wujud kerukunan serta hubungan yang harmonis yang masih lestari hingga kisanak membaca tulisan ini. Adalah benar bahwa gotong royong merupakan bayangan sejati akan kepedulian kita terhadap sesama manusia dan juga alam. Meskipun kita berpijak pada keyakinan yang berbeda. Adalah bijak ungkapan seorang  Mpu Tantular, “... bhinneka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa,”

Artinya : “... mereka memang berbeda-beda. Namun, pada hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua,”  hal ini tertuang dalam Kakawin Sutasoma benar-benar diaplikasikan dalam tiap-tiap individu masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia secara umum.
 
Karakteristik yang kedua adalah Sopan Santun. Meski kata sopan santun merupakan wujud tata kramayang tidak tertulis, namun kata-kata itulah yang akan membangun kehidupan sosial yang indah dan harmonis. Bahkan boleh dibilang, bagi masyarakat Jawa justru sikap tersebut adalah bagian dari kehalusan budi pekerti seseorang yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat memberikan kesan yang mendalam bagi umat manusia.

Dalam hal ini, masyarakat Jawa memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai etika, baik dari sikap maupun berbicara. Sebagai contoh untuk masalah sikap, ketika sedang bertamu dan disuguhkan makanan, sebelum dipersilakan untuk mencicipi, sungkan bagi orang Jawa untuk memakan atas apa yang telah dihidangkan, meski dalam keadaan lapar sekalipun.

Dan sebagai contoh dalam etika sopan santun ini, orang Jawa selalu menjaga segala kata dan perbuatannya, “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana,” agar tidak menyakiti hati orang lain. Dalam interaksi antarpersonal di lingkungan sosial, masyarakat Jawa harus berpedoman pada istilah ngajeni. Ngajeni dalam hal ini sebagai contoh saja dalam hal percakapan, baik antara yang lebih muda, sebaya, dan yang lebih tua harus dibedakan dalam berbahasa.

Perbedaan dalam berbahasa yang berstrata itulah yang boleh dikatakan sebagai salah satu ciri khas dari orang Jawa. Dalam adab ngajeni ini seperti tertuang dalam sastra lama, yakni Serat Wedatama (VIII),
 “Socaning jiwangganira Jer katara lamun pocapan pasthi Lumuh asor kudu unggul Sumengah sosorangan Yen mangkono kena ingaran katunggul Karem ing reh kaprawiran Nora enak iku kaki”
Artinya: “Cacat jiwa raganya memang terlihat sekali saat bertutur kata, sedikit pun tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri. Senang membanggakan diri dan angkuh, hingga hilang kewaspadaan. Dia senang sekali terhadap sesuatu hal yang berhubungan dengan keberanian, tanpa mempertimbangkan perbuatannya secara seksama. Hal semacam itu, Nak, sesungguhnya tidak menyenangkan.”

Selanjutnya adalah orang Jawa Pandai Menyembunyikan Perasaan. Secara umum, orang Jawa memiliki karakteristik semacam ini sehingga lebih cenderung tertutup dan sulit untuk berterus terang.
Sekedar untuk tambahan tulisan ini, untuk memahami karakter masyarakat Jawa, setidaknya kita bisa melihatnya dalam dunia pewayangan yang merupakan dasar moral orang Jawa mengenai kehidupan.

Perwatakan yang di dalamnya ada dua tokoh cerita, Baratayudha; Kurawa dan Pandawa. Seperti yang kita tahu, tokoh-tokoh Kurawa melambangkan perwatakan satria yang jahat. Sedangkan Pandawa adalah perwujudan satria yang baik. Atau dalam kisah epik lainnya, Ramayana, di mana Sri Rama sebagai representasi kebenaran serta kebaikan. Sedangkan Dasamuka merupakan kebalikannya.

Akhir kata, tidak bisa disebut putih, jika tidak ada hitam. Tidak ada kebaikan, jika tidak ada kejahatan. Dua cerminan yang dimiliki dalam setiap jiwa manusia. Tidak peduli dari bangsa Jawa, Sunda, Madura, Betawi, bangsa Lelembut, atau Planet Namek sekalipun (jika memang planet itu ada), pasti ada bagian dari kebaikan dan kejahatan. Tergantung dan tentunya balik pada diri kita sendiri untuk membawa jiwa dan raga ini ke arah yang mana. Sekian dulu dan mohon dimaklumi jika ada banyak kekurangan.  


Memahami Aliran Kebatinan Perjalanan

  
Nama perjalanan diambil dari gambaran air yang mengalir mulai dari sumbernya melalui sungai sampai akhirnya ke lautan. Sepanjang perjalanan, air telah memberikan unsure yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Gambaran ini sebagai ibarat  perjalanan manusia sebagai indivudu agar senantiasa berdarma bakti dan berbuat baik kepada sesama untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Jadi aliran kebatinan Perjalanan mempunyai pedoman hidup sejarah diri dan dalam kehidupan bernegara yang harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 dan tidak boleh menyimpang dari dua dasar tersebut dan aliran kebatinan Perjalanan tidak mempunyai kitab seperti aliran kebatinan lainnya, misalnya kebatinan Pangestu memakai kitab Sasangko Jati, dan Sapto Darmo menggunakan Kitab Cendro. Aliran Kebatinan "Perjalanan" meyakini bahwa setiap manusia adalah kitab yang ditulis oleh Tuhan.

Aliran perjalanan didirikan pada tanggal 17 September 1927 di Cimerta Kabupaten Subang oleh Mei Kartawinata bersama dua orang temannya, M. Rasyid dan Sumitra. Aliran ini mempunyai nama lain, yaitu :
a.    Aliran Kuring, sebelum kemerdekaan. Mei Kartawinata ketika menerangkan ajarannya di mana-mana selalu menyebut “ inilah Agama Kuring” (artinya agama saya), maksudnya “agama asli Sunda”.
b.    “Permai” (perikemanusiaan), sesudah kemerdekaan. Pada tanggal 7 November 1948, Mei Kartawinata diangkat sebagai Bapak Rohani.
c.    “Agama Yakin pancasila” juga disebut “Agama Sunda”, disebut lagi “Perjalanan” di Bandung

d.    “Agama Petrap”  juga disebut “Traju Trisna”, disebut lagi “Ilmu sejati” dan “Jawa Jawi Mulya”. Di Tulungagung.
e.    “Aliran Perjalanan”, yang terakhir.
Mei Kartawinata lahir pada tanggal 1 Mei 1987 di kebon Jati Bandung. Pendidikannya Sekolah Rakyat atau HIS (Hollands Inlands School) di zaman pemerintahan Belanda. Ketika masih remaja ia tinggal bersama kakak iparnya di kediaman Sultan Kanoman Cirebon. Ia banyak mengetahui ajaran kebatinan di kalangan keluarga keraton Cirebon, seperti Ilmu Sejati. 

Di Cirebon ia berhubungan erat dengan Mohammad Ishak yang sering disebut Kiai Sambelun karena mengjarkan ilmu yang disebut ilmu sambelun. Mei Kartawinata kembali ke Subang dan mendirikan aliran Perjlanan pada tahun 1927. Jika di Cirebon ia dicurigai membantu Belanda, sebaliknya di Subang ia memimpin perjuangan melawan Belanda dengan menggunakan aliran Perjalanan sebagai sarana.

Mohammad Ishak lahir pada tahun 1890 di desa Bodeh Plumbon Kabupaten Cirebon. Ia pernah belajar tarekat Nadhatul Arifin, yaitu tarekat yang memberikan tuntunan kepada seseorang ingin mencapai makrifat billah atau arifin billah, mengetahui Allah dengan sebenar-benarnya. Untuk mencapai makrifat billah, seseorang harus mengetahui rahasia alif, lam, mim yaitu Allah-Mohammad-Adam, sempurnanya harus mengetahui pula Alquran dan Hadis. Akan tetapi bukan Alguran dan Hadis dalam bentuk tulisan Arab yang ditulis diatas kertas, melainkan tulisan yang sejati. Demikianlah yang disebut ilmu sambelun.

Di samping memimpin aliran perjalanan, Mei Kartawinata dalam kehidupan sehari-hari juga dikenal memiliki kemampuan mengobati orang sakit secara tradisional tanpa memungut bayaran. Melalui sarana inilah ia menyampaikan ajarannya kepada orang lain. Mei Kartawianata meninggal dunia pada tahun 1967 di Jalan Cikutra Cidadas Bandung.
Mengenai dua orang teman Mei Kartawinata, yakni M. Rasyid dan Sumitra, riwayat hidup mereka tidak banyak diketahui. Pada Tahun 1926 M, M. Rasyid dan Sumitra datang ke Subang untuk bekerja di percetkan tempat Mei Kartawinata bekerja. Akhirnya ketiga orang ini menjadi kawan akrab. M. Rasyid dan Sumitra, sama-sama memiliki ilmu kanuragan atau kesaktian. Berbeda dengan mereka, Mei Kartawinata tidak menyukai ilmu kanuragan. Yang penting bagi Mei Kartawinata adalah hidup damai dan saling menghormati antara sesama. Ia selalu peduli terhadap orang lain. Karena ia mempuyai kemampuan pengobatan alternatif, bila ada orang sakit ia berusaha mengobatinya.

Aliran perjalanan yang merupakan kepercayaan asli orang Sunda ini disebarkan oleh Mei Kartawinata dengan memanfaatkan kemampuannya mengobati orang sakit secara tradisional tanpa memungut biaya. Oleh karena itu masyarakat banyak yang simpati dan mengikuti aliran tersebut.
Di Subang Mei Kartawinata memimpin perjuangan melawan Belanda dengan menggunakan aliran Perjalanan sebagai sarana. Dari situlah masyarakat mulai mengikuti aliran Perjalanan.

Ajaran aliran Perjalanan berdasarkan pada wangsit yang diterima oleh Mei Kartawinta. Ia menerima wangsit itu berkali-kali sampai ada sepuluh kali yang disebut Dasa Wasita seperti berikut :
Wangsit pertama :
“Janganlah dirimu dihina dan direndahkan oleh siapa pun, sebab dirimu tidak lahir dan tidak besar oleh sendirinya, tetapi dirimu dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan cinta kasih ibu dan bapakmu. Bahkan dirimu itu sendirilah yang melaksanakan segala kehendak dan cita-citamu yang seyogyanya kamu berterima kasih kepadanya.”

Wangsit kedua :
“Brang siapa menghina dan merendahakan dirimu, sama juga artinya dengan menghina dan merendahkan ibu bapakmu bahkan leluhur bangsamu.”
Wangsit ketiga :
“Tiada lagi kekuatan dan kekuasaan yang melebihi kekuatan dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Belas dan Kasih. Sifat belas dan kasih itu pun dapat mengatasi dan menyelesaikan segala pertentangan atau pertengkaran, bahkan dapat memadukan paham dan usaha untuk mencapai tujuan yang lebih maju serta menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti manusia.”

Wangsit keempat :
“Dengan kagum dan takjub kamu menghitung tetesan air yang mengalir yang menuju kesatuan mutlak, yaitu lautan sambil memberikan manfaat kepada kehidupan manusia, binatang, dna pepohonan atau tetumbuhan. Akan tetapi kamu belum pernah mengagumi dan takjub kepada dirimu sendiri yang telah mempertemukan kamu dengan dunia beserta segala isinya. Bahkan kamu belum pernah menghitung kedip matamu. Sungguh betapa nikmatnya apa yang kamu rasakan, padahal semua itu sebagai hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa.”

Wangsit kelima :
“K man pun kamu perghi dan di mana pun kamu berada Tuhan Yang Maha Esa akan selalu bersama denganmu.”

Wangsit keenam :
“Perubahan besar alam kehidupan manusia akan menjadi pembalasan terhadap segala penindasan serta mencetuskan ataumelahirkan kemerdekaan hidup bangsa.”

Wangsit ketujuh :
“Apabila pengetahuan disertai kekuatan raga dan jiwamu digunakan secara salah untuk memuaskan hawa nafsu, akan menimbulkan dendam kesumat, kebencian, pembalasan, dan perlawanan. Sebaliknya apabila pengetahuan dan kekuatan raga dan jiwamu digunakan untuk menolong sesama akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan yang mendalam.”

Wangsit kedelapan :
“Cintailah sesama hidupmu tanpa memandang jenis dan rupa, sebab apabila telah meninggalkan jasad, siapa pun akan berada dalam keaaan yang sama. Ia tidak mempunyai daya dan upaya. Justru selama itu, selama kamu masih hidup, berusahalah agar kamu dapat memelihara kelangsungan hidup sesama sesuai dengan kodrat-Nya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.”

Wangsit kesembilan :
“Batu di tengah sungai, jikalau olehmu digarap menurut kebutuhan, kamu menjadi kaya karenanya. Dalam hal itu yang membuat seseorang kaya raya bukanlah pemberian batu itu, tetapi yang membuat kaya raya adalah hasil kerjamu sendiri.”

Wangsit kesepuluh :
“Geraklah untuk kepentingan sesamamu, bantulah yang sakit untuk mengurangi penderitaannya. Kemudian hari akan tercapailah masyarakat kemanusiaan yang menggerakkan kemerdekaan dan kebenaran” (Rozak, 2002:178-185).
Dasa Wasita (kesepuluh wangsit) tersebut di atas, bila diringkas intinya adalah sebagai berikut :
1.    Antara sesama dilarang saling menghina.
2.    Menghina kepada seseorang hakikatnya juga menghina kepada ayah dan ibunya bahkan nenek moyangnya.
3.    Tidak ada yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, kecuali Tuhan Yang Maha Esa, Yang Belas Kasih. Sifat belas dan kasih itu dapat menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti.
4.    Air yang senantiasa menghidupi tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia, mengandung hikmah agar manusia sebagai individu selalu berbuat baik kepada sesama.

5.    Tuhan Yang Maha Esa selalu berada dekat dengan manusia.
6.    Dinamika hidup dan kehidupan manusia akan membawa kebebasan dari penindasan.
7.    Pemuasan hawa nafsu akan membawa kekacauan dan kehancuran.
8.    Antara sesama harus saling cinta-mencintai agar terpelihara kehidupan bersama.
9.    Kekayaan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dengan kerja keras.
10.    Antara sesama harus saling tolong-menolong terutama dalam menegakkan kebenaran.
 Bila disimak secara seksama, sepuluh butir Dasa Wasita tersebut di atas, semuanya berisi ajaran moral sebagai pedoman hidup manusia dalam hidup bersama, khususnya anggota atau warga aliran Perjalanan.

Setelah wangsit itu diterima, maka didirikan aliran Perjalanan. Nama perjalanan tampaknya diambil dari gambaran air yang mengalir mulai dari sumbernya melalui sungai sampai akhirnya ke lautan. Sepanjang perjalanan, air telah memberikan unsur yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia. Gambaran perjalanan air ini sebagai ibarat perjalanan kehidupan manusia sebagai individu agar senantiasa berdarma bakti dan berbuat baik kepada sesama untuk mencapai kesejahteraan bersama. Konsep ini juga dipandang selaras dengan konsep Pancasila yang mengandung makna sosial religius. Karenanya aliran Perjalanan juga dipandang mempunyai peranan dalam kehidupan negara yang berdasarkan Pancasila. Berdasarkan konsep ini pulalah agaknya, aliran ini disebut “Agama Yakin Pancasila”.


Selasa, 21 Maret 2017

Makna Simbolik Gunungan dalam Pewayangan

Bagi masyarakat Suku Jawa, budaya pementasan wayang merupakan salah satu warisan yang tiada duanya. Wayang merupakan sarana interaktif yang cukup ampuh bagi masyarakat luas. Bab, biasanya wayang banyak menceritakan tentang sisi kehidupan manusia yang hikmahnya dapat diambil oleh penonton secara luas.


Sebelum memulai suatu pertunjukan biasanya dalang akan menggelar gunungan atau kayon. Sepertinya tak banyak yang mengetahui jika gunungan wayang sangat sarat makna. Sebagai generasi yang akan mewarisi kekayaan budaya Indonesia, sangat bijaksana jika kita mengetahui makna gunungan yang sangat kaya makna tersebut.

Biasanya sebuah gunungan dilengkapi dengan beberapa gambar yang mewakili alam semesta:
• Rumah atau balai dengan lantai bertingkat tiga dan pada bagian daun pintu rumah dihiasi lukisan Kamajaya berhadapan dengan Dewi Ratih.
• Dua raksasa berhadapan dengan membawa senjata pedang atau gada lengkap dengan tamengnya
• Dua naga bersayap
• Hutan belantara dengan satwa-satwa
• Harimau berhadapan dengan banteng
• Pohon besar di tengah hutan yang dililit seekor ular.
• Kepala makara di tengah pohon
• Dua ekor kera dan lutung di atas ranting
• Dua ekor ayam alas bertengger di atas cabang pohon

Gunungan pada wayang kulit berbentuk kerucut (lancip ke atas) melambangkan kehidupan manusia. Semakin tinggi ilmu dan semakin tua usia, manusia harus semakin mengkerucut (golong gilig) manunggaling Jiwa, Rasa, Cipta, Karsa, dan Karya dalam kehidupan kita (semakin dekat dengan Sang Pencipta).

Gapura dan dua penjaga pada Gunungan Wayang Kulit (Cingkoro Bolo dan Bolo Upoto), lambang hati manusia baik dan buruk. Tameng dan godho yang dipegang oleh raksasa tersebut diterjemahkan sebagai penjaga alam dan terang.

Pohon besar yang tumbuh menjalar ke seluruh badan dan puncak gunungan melambangkan segala budi-daya dan perilaku manusia harus tumbuh dan bergerak maju (dinamis) sehingga bermanfaat dan mewarnai dunia dan alam semesta. Selain itu, pohon besar yang ada pada gunungan juga melambangkan bahwa Tuhan memberi pengayoman dan perlindungan bagi manusia yang hidup di dunia ini.

Burung melambangkan manusia harus membuat dunia dan alam semesta menjadi indah dalam spiritual dan material.

Benteng pada gunungan melambangkan manusia harus kuat, lincah, ulet, dan tangguh. Sedangkan kera melambangkan sifat manusia harus seperti kera mampu memilih dan memilah baik-buruk, manis-pahit, karena kera mampu memilih buah yang baik, matang dan manis. Harapannya, manusia dapat memilih perbuatan baik dan buruk.

Harimau di alam liar digambarkan sebagai raja hutan, namun pada gunungan harimau dilambangkan bahwa manusia harus menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri (punya jati diri), harus mampu bertindak bijaksana dan mampu mengendalikan nafsu serta hati nurani untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang pada akhirnya bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Rumah joglo (gapuran) melambangkan suatu rumah atau Negara yang didalamnya memiliki kehidupan aman, tenteram, dan bahagia.

Budaya bangsa yang sudah diakui kekayaannya oleh dunia harus dijaga, dan dimengerti, sehingga kelestariannya akan terus terjaga hingga generasi mendatang.



 

Senin, 20 Maret 2017

Menghayati Tasawuf dalam Cerita Dewa Ruci

Dalam dunia pewayangan, penggalan cerita Dewa Ruci  adalah lakon carangan atau sempalan dari Mahabharata yang boleh dibilang penting dan abot (berat). Seperti lakon lainnya yang kelas berat, seperti; Lahirnya Kurawa, Pandhawa Moksa, Kumbakarna Gugur, lakon ini jarang dipentaskan. Sepertinya tidak semua dalang mau dan mampu mementaskannya, karena lakon satu ini bukan sembarangan.

Lakon ini menjadi berat, karena cerita di dalamnya mengandung jalan kontemplasi tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), menyingkap kerinduan akan Tuhan dan perjalanan rohani untuk mencapaiNya (manunggaling kawula Gusti). Karena terbilang favorit sekaligus abot, lakon ini banyak sekali variasinya, tergantung siapa yang menuturkannya dan siapa dalang yang memainkannya.

Dari sekian literasi yang ada, paling tidak ada 40 naskah lakon yang juga disebut sebagai Bima Suci ini. 19 naskah diantaranya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Sedangkan yang paling terkenal, adalah gubahan pujangga keraton Surakarta Yosodipuro berjudul "Serat Kidung Dewa Ruci", yang disampaikan dalam bentuk tembang macapat, dengan bahasa Kawi-Sansekerta dan Jawa Kuno.  

Cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya, Kurawa sedang bersama menimba ilmu pada guru yang sama, yakni Resi Durna atau Kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, Pandu Dewanata yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Dan para saudara Kurawa yang berjumlah seratus itu, bakal lontang-lantung jadi preman.

Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandawa, halus ataupun kasar. Sebenarnya juga para Kurawa yang muda, berangasan  dan pendek akal itu tidak mampu merancang tindakan yang kebanyakan jenius itu, tanpa bantuan sang pemikir, Harya Sangkuni, atau Arya Suman, adik ibunya Gendari, yang diangkat jadi Patih kerajaan Astina. Wajar saja, sang Paman juga sangat berkepentingan akan kelangsungan kekuasaan keponakannya kan? Kalau saja Pandhawa dapat menguasai kerajaan, apa iya dia gak jadi kere?

Dengan akal bulusnya, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu program Kurawa itu. Melenyapkan Pandhawa!

Sasaran utamanya adalah Panhawa si nomer 2, Raden Wrekudara alias Arya Bimasena dan si nomer 3 Raden Janaka alias Harjuna, 2 orang Pandawa yang kesaktiannya menyundul langit itu. Kalau 2 orang itu sudah ‘gem oper’, yang lain cemen saja. Untuk saat ini, skala prioritasnya adalah Sang Bimasena, yang punya posisi strategis di Pandawa, sebagai palang pintu, seperti posisi legenda hidup Bejo Sugiantoro di Persebaya. Si Bejo, eh salah........ sang Bima yang memang sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari "Tirta Prawitasari", air kehidupan, guna menyucikan bathinnya demi kesempurnaan hidupnya. Benda itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka.

Ketika menghadap ibunya, Dewi Kunti, saudara-saudaranya yang lain mengingatkan bahwa mungkin ini hanya jebakan Sangkuni. Karena hutan itu sudah terkenal sebagai  "alas gung liwang liwung, sato mara, sato mati" (hutan raya tak tertembus, mahluk yang mencoba masuk 99,99% tinggal nama, tidak kembali). Tapi Bima ngotot dan pede abis, perintah Guru tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan jiwanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya.

Sang Bima pun akhirnya berangkat menjalankan tugas gurunya. Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak ada, malah membangunkan 2 raksasa penunggu hutan Rukmuka dan Rukmakala yang lagi enak-enak tidur. Perkelahian segera terjadi dan 2 raksasa itu terbunuh oleh Sang Bima. Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Sang Bima kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget, kok bisa-bisanya ada mahluk yang keluar hidup-hidup dari hutan Tibaksara itu, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit.

Tirta Prawitasari itu harus dicari di kedalaman lautan! Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, Sang Bimasena pun langsung berangkat. Seisi lautan diaduknya, seekor Naga yang menghalangi jalannya disingkirkannya, tapi yang dicarinya tidak juga ketemu. Ditengah kebingungannya, dia menemukan mahluk serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang meniti ombak lautan, mendekati dirinya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Dewa Ruci,  sang suksma sejatinya, dirinya yang sebenarnya.

Pembicaraan antara 2 mahluk inilah yang menjadi inti cerita ini, sayang sekali saya tidak mampu menguraikannya secara tepat karena ilmu saya yang terbatas. Akhirnya Sang Bimasena masuk ke dalam wadag Sang Dewa Ruci melalui kuping kirinya, dan mendapat penjelasan tentang hidup sejatinya. Cerita selesai sampai disini. Kalaupun ada lanjutannya, paling itu bunganya saja,  yakni para Kurawa yang tunggang langgang dihajar dan tarian kemenangan Sang Bima Sena.

Untuk mendapatkan "inti pengetahuan sejati" (Tirta Prawitasari) Sang Bima harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara "tajamnya cipta"; Gunung Reksamuka, "pemahaman mendalam"). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka "kamukten, kekayaan" dan Rukmakala "kemuliaan". Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum. Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan "samodra pangaksami" pengampunan.
Membunuh Naga yang mengganggu jalannya simbol dari melenyapkan kejahatan dan keburukan diri. Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan "Manunggaling Kawula-Gusti", bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen "mati sajroning urip, urip sajroning mati". (mati di dalam hidup, dan hidup di dalam mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri.