Kamis, 02 November 2017

Sengkolo dalam Perspektif Budaya Jawa

Kata sengkolo  bagi orang Jawa sudah tidak asing lagi.  Sengkolo, meski merujuk pada deretan kata berupa kalimat atau bukan kalimat yang mengandung angka tahun. Tapi istilah yang merupakan rintangan kehidupan yang dialami oleh manusia yang diakibatkan dengan adanya energi negatif atau aura hitam yang tidak selaras yang terdapat didalam tubuh seseorang, sehingga bisa mengakibatkan penderitaan hidup lahir dan batin.

Seperti halnya. Contoh. usaha atau bisnis yang selalu gagal atau barangkali  persoalan asmara yang sering putus tanpa sebab yang jelas. Contoh yang lain misalnya, dalam usaha kita sudah termasuk rajin bekerja dan berusaha namun selalu mengalami kegagalan padahal ada orang lain yang usahanya santai-santai saja selalu saja mengalami keberuntungan.

Penyebab dari Sengkolo ada berbagai macam. Ada Sengkolo yang sudah dibawa sejak dilahirkan (konon ini biasanya akibat perbuatan jelek yang dilakukan bapak/ibu ketika kita dalam kandungan), ada sengkolo akibat perbuatan tidak baik kepada orang lain di masa sekarang. Bahkan ada Sengkala yang sengaja dilakukan orang dengan tujuan jahat karena bermusuhan dengan kita dan lain-lain sebab. 

1.    Berbagai Jenis Sengolo yang harus segera di ruwat  dikategorikan menjadi 29 macam, yaitu :
2.    Kebo Kemali (pacaran sering putus atau sulit dapat jodoh)
3.    Bahu Laweyan (jika menikah maka pasangan atau anak kita meninggal)
4.    Jlomprong (sering sakit sakitan)
5.    Cluwak Bodas (sering bertengkar dengan pasangan)
6.    Sambit (hidup selalu susah/gagal akibat lupa bayar hutang)
7.    Cekal Kendit (karir macet, jabatan tak pernah naik)
8.    Gotro Pati (rejeki seret, kerja siang malam tak ada hasil)
9.    Kantong Bolong (uang sebesar berapun yang dimiliki selalu habis, boros)
10.  Gendring Bumi (usaha yang dimiliki selalu gagal karena tanah yang ditempati wingit, angker/keramat atau ber energi negatif)
11.  Ruwing (sial terus menerus karena menyakiti orang tua)
12.  Rerewo Bodes (sering sial karena suka ingkar janji)
13.  Bandor Sari (sering sial karena dikutuk/disumpah ibu)
14.  Jeblak (sering sial karena dikutuk/disumpah ayah)
15.  Cengis (hidup selalu difitnah orang)
16.  Gabuk (sudah lama menikah belum memiliki anak)
17.  Cluring (hidup selalu sial, usaha bangkrut, sering sakit sakitan alias sial multidimensi)
18.  Branjang Sunu (sial karena sering makan makanan haram)
19.  Srigunting (sering ditolak dalam urusan asmara)
20.  Blunuk Glontar (hidup sengsara karena menolak cinta seseorang)
21.  Blorong (tidak betah berkerja dan selalu pindah-pindah karena berbagai masalah)
22.  Pantek Jangkar (jiwa labil karena salah atau belum siap dalam belajar ilmu)
23.  Gombak Gimbal (sial karena ada bagian tubuh yang diubah misalnya operasi plastik dll)
24.  Jebluk (sering mengalami musibah atau kecelakaan)
25.  Borong Cokro (sial karena ingkar nadzar atau janji pada seseorang)
26.  Surengkala (dimana-mana selalu dimusuhi orang)
27.  Cleret Timbal (kesialan karena hukum karma akibat perbuatan dimasa lalu yang tidak baik)
28.  Gendrung Bedes (sial karena sering melakukan perbuatan maksiat)
29.  Blongkang Suji (kesialan karena pernah membunuh orang)
30.  Birowo (kesialan karena disabda oleh seseorang)

Dalam budaya Jawa, solusi untuk mengatasi sengkolo ini adalah segera mengikuti ruwata agar energi negatif atau aura hitam yang terdapat dalam diri kita hilang dalam tubuh dan berganti dengan aura positif yang selaras dengan energi diri sendiri, alam semesta dan Tuhan. Sehingga kehidupan kita mengalami perubahan drastis yang jauh lebih sehat, damai, dekat pada Tuhan, berhasil, sukses, kaya, makmur dan semua keinginan serta impian/cita-cita Anda bisa terwujudkan dengan lancar dan mudah.    



Memahami Makna Serat Cemporet


Serat Cemporet adalah salah satu hasil Karya besar pujangga Ranggawarsita. Ranggawarsita adaah salah satu puangga asal pulau Jawa yang paling terkenal, sosok dan karya-karyanya menjadi perhatian dunia, namun sayang banyak anak negeri yang lupa akan sang pujangga dan lebih mengaggumi pujangga impor. Selain memiliki bobot yang berkualitas, kata-kata sastranya juga selaras dengan perkembangan zaman. Karya Ranggawarsita yang terkenal, antara lain: Jaka Lodhang, Pustaka Raja Purwa, Sabda Jati dan Hidayat Jati. Selain itu, ada juga Serat Cemporet .

Serat Cemporet lebih terkenal lantaran digubah memakai bahasa Jawa yang indah. Zaman dahulu, sebelum Jepang menjajah Indonesia, buku tersebut digemari banyak orang untuk bacaan, khususnya yang senang melantunkan macapat. Namun demikian, juga tidak sedikit orang yang mencela kitab tersebut lantaran bahasa yang digunakan terlalu halus (bahasa sastra tinggi). Obrolan orang desa yang memakai bahasa tadi dianggap terlalu tinggi, sehingga terkesan dibuat-buat.

Kesan itu pernah ditulis oleh Prof. Dr. R. Ng Purbacaraka dalam bukunya “Kepustakaan Jawa”. Tapi banyak juga orang yang setuju dengan pendapat tersebut karena karya sastra itu mempunyai kebebasan dalam memilih kata-kata, dan tidak harus mengikuti idiom-idiom yang ada di masyarakat tertentu.

Serat Cemporet tersebut sampai sekarang masih digemari. Cerita yang dipaparkan dalam kitab ini benar-benar memikat dan memukau pembaca. Pintarnya sang pujangga dalam menghubungkan ceritanya memang mumpuni. Yang menjadi tokoh tidak hanya manusia saja, tapi ada juga dunia gaib siluman/dewa beserta hewan-hewan. Namun demikian, Ranggawarsita juga tidak lupa menyisipkan nasihat-nasihat atau petuah-petuah arif yang berasal dari nenek moyang.

Serat Cemporet Ranggawarsita, kisahnya memang ceritera kuno, bagian akhir dari pustaka Rajaweda, yaitu mengenai Negara Purwacarita di istananya Raja Sri Maha Punggung. Awal ceritanya, Raja Suwelacala memiliki putra 6 orang, yaitu: 
1.    Raden Jaka Panuhun yang suka bertani. Dia merangkul petani tlatah Pagelan dan sekitarnya. Raden Jaka Panuhun berputra 3 orang, yang sulung bernama Raden Jaka Pratana. Badannya cebol. Lalu yang nomor dua bernama Raden Jaka Sangara yang punya cacat saat lahir, dan yang bungsu bernama Raden Jaka Pramana dari ibu keturunan jin.
2.    Raden Jaka Sandanggarba, membawahi masyarakat pedagang di Jepara dengan julukan Sri Sadana. Raden Jaka Sandanggarba berputra 5 orang, yaitu Raden Jaka Sudana, Raden Jaka Barana (Daniswara), Raden Jaka Suwarna (Anggliskarpa), Raden Jaka Pararta dan Dewi Suretna.
3.    Raden Jaka Karungkala yang membawahi daerah Prambanan dengan julukan Sri Kala. Raden Jaka Karungkala berputra 4 orang, yaitu Dewi Karagan, Dewi Jonggrangan, Raden Jaka Sangkala (Arya Pramadasakala) dan Raden Jaka Pramada (Raden Prawasata).
4.    Jaka Tunggulmetung yang membawahi di Pagebangan, memimpin petani garam dengan julukan Sri Malaras. Jaka Tunggulmetung berputra 2 orang, yaitu Raden Jaka Suwarda dan Raden Jaka Damedas.
5.    Raden Jaka Petungtantara yang menjadi pimpinan maharesi Medhangkawit dengan julukan Resi Sri Madewa. Pusat kerajaannya di Pamagetan, lereng Gunung Lawu. Raden Jaka Petungtantara berputra dua orang, yaitu Dewi Resi dan Raden Surasa (resikana).
6.    Raden Jaka Kandhuyu berkuasa di Purwacarita dengan julukan Sri Maha Punggung, yang bertahta pada tahun Surya 1031 atau 1061. Istrinya ada 3 orang, yang kesemuanya adalah putra seorang dewa. Istri pertama bernama Dewi Sundadari, punya anak bernama Raden Kandaga (Raden Lembu Jawa atau Arga Kalayuda) dan Raden Kandiyana.
7.    Istri kedua yaitu Dewi Mandyadari Retna Kenyapura yang berputra Raden Kandawa. Istri yang ketiga, Dyah Upalagi, berputra Raden Kandeya (Arya Pralambang) dan Raden Kandiyana.

Tersebutlan dalam ceritera tadi mengenai Raja Pagelen yang punya keinginan menikahkan putranya, Jaka Pramana dengan Dewi Suretna, putri raja di Jepara. Lalu, timbul masalah lantaran Jaka Pramana belum berhasrat nikah jika kakak-kakaknya yang cacat tadi belum menikah. Begitu juga Dewi Suretna tidak mau menikah dengan putra raja di Pagelen, lantaran dikira bakal dinikahkan dengan yang menyandang cacat.   


Falsafah Sopo Sing Temen Bakal Tinemu dalam Olah Spiritual Jawa

Bagi  kita yang kebetulan orang Jawa tentunya sudah  akrab dengan falsafah seperti pada judul di atas. Sopo sing temen bakal tinemu. Secara harfiah, falsafah lawas ini artinya ‘siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya’.

Sepintas, makna harfiah dalam falsafah Jawa  ini sangat sederhana. Tapi ini akan berlaku kebalikannya bagi para pendaki spiritual, makna yang terkandung dalam falsafah ini bagi pendaki spiritual sangatlah besar. Setidaknya, paling sederhana makna dalam falsafah ini, kita pasti bisa bertemu dengan Gusti Allah di alam kematian saat kita hidup di dunia ini.

Maksudnya adalah. orang hidup di dunia ini selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, otak, dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan adalah dengan bekerja mencari duit. Bener tidak!

Nah, ketika kita makan itu sebenarnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak, dan lainnya. Maka kita ini disebut mati dan hanya Ruh kitalah yang hidup. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Ruh akan tetap hidup.

Ruh tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh. Itulah sebabnya kita di tuntut untuk "belajarlah mati sebelum kematian itu datang". Artinya, ketika kita hidup di dunia ini hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal yang bersifat mengotori hati. Tujuannya semata-mata hanya untuk bertemu dengan sang Pemberi hidup.

Belajar mati sejatinya menjadi sangat penting. Sederhananya agar nanti ketika kita mati tidak salah arah dan salah langkah. Mungkin sebagian dari kita berpikiran bahwa orang mati ibarat tidur menunggu pengadilan dari Allah Yang Maha Agung?

Bagi pendaki spiritual, orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju Yang Maha Kuasa. Seperti yang sudah saya tulisa di akarasa ini, orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya, Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum).

Seandainya ada ruang yang cukup untuk mengkajianya, kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

Gusti Allah itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang Gusti Allah. Tetapi sebaliknya, Gusti Allah itu akan terasa jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain Gusti Allah.

Lantas, bagaimana untuk bisa bertemu dengan Gusti Allah? Jadi begini kisanak. Sebagaimana kita ingin bertemu dengan pacar atau dalam bahasa Jawa gandulaning ati, sebelum ketemu kita  pasti sudah membayangkan kemolekan tubuhnya, senyumnya dan berjuta khayalan yang njubel di benak toh. Bahasa anak muda sekarang ‘jauh di mata, dekat di hati’.

Begitu halnya ketika kita ingin berjumpa dengan-Nya. Pasti di setiap waktu segala kerinduan itu akan menjadi bagian hidup kita dan setiap waktu itu pula kita akan selalu meng ingat-Nya, mematuhi segala perintah-Nya. Ibadah hanya untuk-Nya, bukan untuk mertua, istri, apalagi atasan. Meskipun Gusti Allah itu bersifat Gaib.

Apakah bisa kita yang nyata ini bertemu dengan yang Gaib, demikian toh pertanyaannya? Secara rasional orang akan berfikir demikian. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para perindu Tuhan. Seseorang bisa bertemu dengan Sang Gaib dengan menggunakan satu piranti khusus yaitu Rasa dan mata batin. Sebab Gusti Allah itu tidak bisa dipandang dengan mata telanjang.

Maka dapat kita simpulkan bahwa untuk bertemu dengan Gusti Allah mesti harus menggunakan piranti yang halus yaitu dengan Rasa dan Mata Batin kita. Jika Rasa itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi tajam seperti mata pedang. Dan rasa itu akan akan senantiasa menjadikan kita deket dengan-Nya. Sehingga di setiap langkah, gerak, tindakan dan aliran darah, kita serasa dalam pangkuan-Nya. Disinilah berlakunya Falsafah ‘Sopo sing Temen Bakal Tinemu" (Siapa yang bersungguh sungguh dalam ibadah mangka dia akan menemukan-Nya


Jumat, 20 Oktober 2017

Suluk Gatholoco, Cara Berdialog Dengan Sang Pencipta Melalui Hubungan Seks

Banyak orang menganggap Suluk Gatholoco lebih nakal ketimbangSerat Centhini. Gatholoco memang membenarkan dan menganjurkan hubungan seks sebagai salah satu cara “berdialog” dengan Tuhan, sebagai salah satu pengaruh Tantra.
Bahkan, selain Gatholoco sebagai tokoh utama, kelima istrinya, Dewi Mlenukglembuk, Dewi Dudul Mendut, Dewi Rara Bawuk, Dewi Bleweh, dan Retna Dewi Lupitwati (berkaitan dengan peristilahan kelamin perempuan), hadir menjadi bagian cerita dan teman dialog sang tokoh utama kala mendedah ajaran mistik Kejawen.


Penggubah Suluk Gatholoco memakai bentuk cangkriman (tebak-tebakan) supaya mudah diingat, karena kandungan isinya terlampau “berat” untuk dipahami awam. Cangkriman kali pertama diajukan Gatholoco kepada ketiga kiai mengenai asal-usul siapa lebih tua antara dalang, wayang, kelir, dan blencong.
Setelah ketiga kiai tak mampu menjawab, Gatholoco memulai sesi tebak-tebakan dengan kelima perempuan.

Dewi Mlenukgembuk memulai dengan pertanyaan mengenai isi dunia dan siklus alam. Lantas, Dewi Dudulmendut bertanya mengenai dualisme di dunia. Rara Bawuk kemudian membuka dialog dengan pertanyaan mengenai sifat hidup dan nyata dalam kehidupan. Bersambung kemudian Dewi Rara Bleweh juga mengajukan cangkrimanbermacam-macam nafsu manusia. Terakhir, Retna Dewi Lupitwati bertanya mengenai penyatuan manusia.
Gatholoco dengan lihai menjawab kelima pertanyaan mereka. Dia menang menghadapi kelima perempuan kelak menjadi istrinya itu. Sang pangeran kelana tersebut lantas meminta kelima perempuan membuka busana. Seketika, Gatholoco leluasa meraba bagian tubuh mereka.
Tak lama, Gatholoco menaikan permainan dengan mengajak mereka mengadu kelamin. Lantaran dirasa tabu, dia pun kemudian memberi wejangan dalam bentuk tembang Dhandanggula.

Damardjati Supadjar, pakar Filsafat Jawa dari Yogyakarta, menyebut Suluk Gatholoco bukan untuk memuja seks, melainkan untuk menunjukkan bahwa ujian syariat terberat adalah seks. “Hanya mereka yang lulus dari ujian ‘mekakah’, yang makin jelas bentang kebenaran yang mengatasi ruang dan waktu, yang bisa melakukan transformasi ke tarikat, apalagi menuju hakikat,” seperti dikutip dalam artikel ‘Kebrutalan Gatholoco Kesendirian Darmogandhul’ oleh Sucipto Hadi Purnomo dimuat SuaraMerdeka.com.  


Rabu, 27 September 2017

Burung Perkutut Dan Mitos Jawa Yang Menyertainya

Burung adalah salah satu jenis hewan yang mudah untuk dijumpai. Hewan yang satu ini banyak di temui hampir diseluruh daerah di permukaan bumi. Jenis makhluk hidup yang satu ini memiliki sayap, sehingga ia dapat terbang. 

Di Indonesia sendiri, ada sebanyak 1600an spesies burung yang kemudian membawa Indonesia sebagai negara dengan urutan ke-empat dunia dalam hal banyak-banyakan spesies burung. Dari banyaknya burung di Indonesia inilah yang kemudian menyuburkan kepercayaan masyarakat perihal burung dan hubungannya dengan hal mistis. Dalam dunia gaib, terkadang keberadaan suatu burung dapat menjadi pertanda akan sebuah peristiwa. Hal ini dipercaya oleh masyarakat tanah jawa. Dalam keyakinan penduduk jawa, mereka sangat mempercayai mitos tentang burung perkutut. Oleh karena itu, maka banyak beredar kisah burung perkutut dan mitos jawa.

Burung perkutut adalah salah satu unggas yang hidup di Pulau Jawa. Jenis burung perkutut ini dikenali dengan baik oleh masyarakat jawa. Bahkan dalam cerita mitos jawa, burung perkutut diyakini  memiliki tuah. Hal ini berdasarkan beberapa buku primbon yang mengisahkan bahwa burung perkutut tersebut jelmaan para pangeran di Kerajaan Majapahit. Oleh karena keyakinan tersebut, maka burung perkutut dan mitos jawa dipegang teguh oleh para penduduk jawa zaman dahulu. Bahkan saat ini pun masih ada beberapa orang yang mempercayai mitos burung perkutut ini. Berikut
 
Bila Anda adalah pecinta atau pengkoleksi burung, tentu mendengar cerita tentang serba-serbi burung sungguh menyenangkan. Perlu para sobat pecinta cerita hantu ketahui bahwa burung perkutut ini terdapat beberapa macam. Setiap jenis perkutut memiliki kisah mistisnya sendiri-sendiri. Berikut ini beberapa jenis burung perkutut dan mitos jawa yang menyertainya:

Perkutut Songgo Ratu
Nama burung perkutut dan mitos jawa yang menyertainya yang pertama adalah perkutut songgo ratu. Jenis perkutut yang satu ini memiliki bentuk tubuh berwarna gelap dan memiliki jambul di bagian kepalanya. Hewan yang satu ini dipercayai sebagai reinkarnasi dari pangeran dari kerajaan Bali yang meninggal dunia dalam pelariannya ke Banyuwangi. Dalam kehidupannya, jenis binatang yang satu ini terkenal aneh. Burung perkutut songgo ratu ini lebih suka hidup di tempat yang sepi, seperti kuburan, gua, rumah kosong, dan lainnya sebagainya. Hal inilah yang melatar belakangi lahirnya cerita mistis dari perkutut songgo ratu.
 
Perkutut Lurah, Perkutut lurah merupakan jenis dari hewan yang dipercayai memiliki tuah oleh penduduk jawa tradisional. Jenis binatang perkutut lurah ini diyakini dapat mendatangkan kewibawaan dan rejeki bagi siapa saja yang memeliharanya. Di alam liar, burung ini tergolong unik. Perkutut lurah ini tidak pernah mencari makanan dalam kesehariannya. Ia mendapat makanan dari burung lain yang menyuapinya. Ciri umum dari jenis perkutut ini yaitu memiliki warna bulu putih di bagian dada dan berwarna loreng di bagian atasnya.

Perkutut DaringanPerkutut Daringan adalah sebuah nama dari salah satu burung perkutut. Jenis burung yang satu ini memiliki ciri fisik seperti bulu leher yang bermotif garis-garis tanpa putus. Dalam mitos jawa. Burung perkutut daringan ini dipercaya mampu mendatangkan rejeki yang melimpah oleh penduduk pulau jawa.
Perkutut Katurungan/katuranggan, Jenis burung perkutut selanjutnya adalah katurungan. Dalam burung perkutut dan mitos jawa, jenis hewan yang satu diyakini dapat mendatangkan kebahagiaan, kesenangan, dan ketentraman bagi siapa saja yang memeliharanya. Untuk ciri fisiknya, jenis perkutut ini sama dengan perkutut jawa pada umumnya. Yang membedakan keduanya adalah perkutut katurungan ini memiliki suara yang khas dan berbeda dari jenis perkutut jawa lainnya.
Perkutut Putih, Jenis burung perkutut dan mitos jawa yang menyertainya berikutnya yaitu burung perkutut putih. burung perkutut yang satu ini memiliki bulu yang berwarna putih. Konon hewan yang satu ini dahulunya hanya dipelihara oleh para raja majapahit saja. Jenis perkutut putih ini sangat langka, sehingga harganya pun mahal. Perlu sobat hantupedia ketahui. dalam mitos jawa, orang yang memelihara perkutut ini diyakini dapat memperoleh kekayaan selama sang burung masih hidup.
Itulah  beberapa jenis burung perkutut dan mitos yang menyelubunginya. Beragam perkutut diatas dipercaya oleh masyarakat sebagai perkutut pembawa kebaikan. Sebaliknya ada pula beberapa jenis perkutut yang dipercaya membawa kesialan untuk pemiliknya. Benarkah?



Senin, 28 Agustus 2017

Menghayati Makna Dibalik Petuah Wali Songo

Berdasarkan tutur dan riwayat para Wali Songo, diceritakan bahwa Kanjeng Sunan Maulana Malik Ibrahim   berasal dari Persia. Bahkan dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim beripar dengan raja di negeri Cheermen. Mengenai letak negeri Cheermen itu terletak di Hindustan, sedangkan ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa letaknya Cheermen adalah di Indonesia.

Adapun mengenai nama kedua orang tuanya, kapan beliau dilahirkan serta dimana, dalam hal ini belum diketahui dengan pasti. ada yang mengatakan bahwa beliau berasal dari Kasyan (Persia). Bilamana beliau meninggal dunia ? Kalau ditilik dari batu nisan yang terdapat pada makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dekat Surabaya terukir sebagai tahun meninggalnya 882 H, atau tahun 1419 M.

Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa didaerah Jawa Timur. Dari sanalah dia memulai menyingsingkan lengan bajunya, berjuang untuk mengembangkan agama Islam.Adapun caranya pertama-tama ialah dengan jalam mendekati pergaulan dengan anak negeri. Dengan budi bahasa yang ramah tamah serta ketinggian akhlak, sebagaimana diajarkan oleh Islam, hal itu senantiasa diperlihatkannya didalam pergaulan sehari-hari.

Beliau tidak menentang secara tajam kepada agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli. Begitu pula beliau tidak menentang secara spontan terhadap adat istiadat yang ada serta berlaku dalam masyarakat kita yang masih memeluk agama Hindu dan Buddha itu, melainkan beliau hanya memperlihatkan kaindahan dan ketinggian ajaran-ajaran dan didikan yang dibawa oleh Islam. Berkat keramah tamahannya serta budi bahasa dan pergaulannya yang sopan santun itulah, banyak anak negeri yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.

 2.Raden Rahmat (Sunan Ampel)
Sunan Ampel pada masa kecilnya menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, bernama Raden Rahmat, lahir pada tahun 1401 di Champa.  Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya ( kota Wonokromo sekarang)

Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Raden Rahmat adalah putra Maulana Malik Ibrahim. Menurut beberapa riwayat, nama Maulana Malik Ibrahim juga dikenal sebagai Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari Champa dan menjadi raja di sana. Ibrahim Asmarakandi.
Sunan Ampel memiliki silsilah hingga sampai ke Nabi Muhammad SAW, yaitu :


 * Sunan Ampel @ Raden Rahmat @ Sayyid Ahmad Rahmatillah bin * Maulana Malik Ibrahim @ Ibrahim Asmoro bin * Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Khan bin * Ahmad Jalaludin Khan bin* Abdullah Khan bin * Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin  * Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin  * Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)  * Ali Kholi' Qosam bin  * Alawi Ats-Tsani bin * Muhammad Sohibus Saumi'ah bin  * Alawi Awwal bin  * Ubaidullah bin  * Ahmad al-Muhajir bin  * Isa Ar-Rumi bin * Muhammad An-Naqib bin  * Ali Uraidhi bin   * Ja'far ash-Shadiq bin * Muhammad al-Baqir bin * Ali Zainal Abidin bin  * Imam Husain bin * Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad.

Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.

Sunan Ampel sebagai sunan yang “dituakan” di antara delapan Wali Songo lainnya, menjadi Surabaya sebagai pangkal kegiatan ziarah “Wali Songo”. Dan sudah umum, sebelum melakukan ziarah ke makam-makam Wali Songo, Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel dijadikan tempat start. Dari sini baru kemudian menuju ke Gresik, Lamongan, Tuban, Gunung Muria, Kudus, Demak dan finish di Cirebon.

Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid
Ampel, Surabaya.

3.Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang)
Beliau adalah putera dari Sunan Ampel dalam perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, seorang putera dari Arya Teja, salam seorang Tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. menurut dugaan Sunan Bonang dilahirkan dalam tahun 1465 M, serta wafat pada tahun 1525 M.
Maulana Makhdum Ibrahim, semasa hidupnya dengan gigih giat sekali menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Timur, terutama di daerah Tuban dan sekitarnya. sebagaimana halnya ayahnya, maka Sunan Bonang pun mendirikan pondok pesantran di daerah Tuban untuk mendidik serta menggembleng kader-kader Islam yang akan ikut menyiarkan agama Islam ke seluruh tanah Jawa. konon beliaulah yang menciptakan gending Dharma serta berusaha mengganti nama-nama hari nahas/sial menurut kepercayaan Hindu, dan nama-nama dewa Hindu diganti dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi. Hal mana dimaksudkan untuk lebih mendekati hari rakyat guna diajak masuk agama Islam.
Karya dan Ajaran
Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud (1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis dalam bentuk dialog antara guru tasawuf dan muridnya ini telah ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang (1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda, kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).
Dalam Suluk Wujil, yang memuat ajaran Sunan Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:
Jangan terlalu jauh mencari keindahan
Keindahan ada dalam diri
Malah jagat raya terbentang dalam diri
Jadikan dirimu Cinta
Supaya dapat kau melihat dunia (dengan jernih)
Pusatkan pikiran, heningkan cipta
Siang malam, waspadalah!
Segala yang terjadi di sekitarmu
Adalah akibat perbuatanmu juga
Kerusakan dunia ini timbul, Wujil!
Karena perbuatanmu
Kau harus mengenal yang tidak dapat binasa
Melalui pengetahuan tentang Yang Sempurna
Yang langgeng tidak lapuk
Pengetahuan ini akan membawamu menuju keluasan
Sehingga pada akhirnya mencapai TuhanSebab itu, Wujil! Kenali dirimu
Hawa nafsumu akan terlena
Apabila kau menyangkalnya
Mereka yang mengenal diri
Nafsunya terkendali
Kelemahan dirinya akan tampak
Dan dapat memperbaikinya
Dengan menyatakan `jagat terbentang dalam diri` Sunan Bonang ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi kerohaniannya. Adalah yang spiritual yang menentukan yang material, bukan sebaliknya. Tetapi karena pikiran manusia kacau, ia menyangka yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. Karena potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi.
Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.
Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.
Tamba Ati
Tamba ati iku lima sak warnane
Maca Qur'an angen-angen sak maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonana
Kaping telu, wong kang soleh kencanana
Kaping papat kudu wetheng ingkang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe

Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, pada 1525. Saat akan dimakamkan, ada perebutan antara warga Bawean dan warga Bonang, Tuban. Warga Bawean ingin Sunan Bonang dimakamkan di pulau mereka, karena sang Sunan sempat berdakwah di pulau utara Jawa itu. Tetapi, warga Tuban tidak mau terima. Pada malam setelah kematiannya, sejumlah murid dari Bonang mengendap ke Bawean, ''mencuri'' jenazah sang Sunan.

Esoknya, dilakukanlah pemakaman. Anehnya, jenazah Sunan Bonang tetap ada, baik di Bonang maupun di Bawean! Karena itu, sampai sekarang, makam Sunan Bonang ada di dua tempat. Satu di Pulau Bawean, dan satunya lagi di sebelah barat Masjid Agung Tuban, Desa Kutareja, Tuban. Kini kuburan itu dikitari tembok dengan tiga lapis halaman. Setiap halaman dibatasi tembok berpintu gerbang.
4.Raden Qasim (Sunan Drajat)

Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun

Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.

Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.
Jadi bilamana Sunan Drajat memberi contoh serta menganjurkan kepada rakyat, agar memiliki jiwa sosial serta menganjurkan agar supaya rakyat suka menolong para fakir dan miskin yang sedang mengalami penderitaan dan kesempitan, maka hal itu adalah sesuai dengan tuntunan agama.

5.Jaffar Shadiq (Sunan Kudus)
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung, adalah panglima perang Kesultanan Demak Bintoro, dan Syarifah, adik dari Sunan Bonang. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun 1550.

Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, dan dalam masa pemerintahan Sunan Prawoto, dia menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang untuk Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan bagi Kesultanan Demak.

Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun Menara Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu yang juga terdapat Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.

Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah.Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.

6.Raden Paku/Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Kemudian bersama-sama dengan Maulana Makdum Ibrahim, Raden Paku oleh Sunan Ampel di suruh pergi haji ke Tanah Suci, sampai memperdalam ilmunya. Tetapi mereka sebelum sampai di tanah suci singgah terlebihdahulu di Pasai (Aceh), untuk menuntut ilmu kepada para ulama disana.
Adapun yang imaksud ilmu di sini, adalah ilmu ke Tuhanan menurut ajaran tasawuf. Konon kabarnya memang banyak ulama-ulama keturunan India dan Persia yang membuka pengajian di pasai di waktu itu. Bahkan banyak pula ulama-ulama dari Malaka juga kadang-kadang datang bertanya tentang sesuatu masalah ke Pasai. Sesudah kedua tunas muda itu selesai menuntut pelajaran di sana, merekapun kembalilah ke tanah Jawa. Raden Paku berhasil mendapat "Ilmu Laduni", sehingga gurunya di pasai memberinya nama "Ainul Yaqin".

Raden Paku sekembalinya di tanah Jawa mengajarkan agama Islam menurut bakatnya. Raden paku atau Syekh Ainul Yaqin mengadakan tempat berkumpul yang boleh disebut pondok pesantrennya di Giri. dimana murid-muridnya terdiri pada orang-orang kecil (rakyat jelata).
Diantara permainan kanak-kanak hasil ciptaan/gubahannya adalah rupa "jitungan" atau "jelungan".

Adapun caranya adalah begini :
Anak-anak banyak, satu diantaranya menjadi "pemburu", lain-lainnya jadi "buruan" mereka ini akan 'selamat' atau 'bebas' dari terkaman 'pemburunya', apabila telah berpegangan pada 'jitungan', yaitu satu pohon, tiang atau tonggak yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Permainan dimaksudkan untuk mendidik pengertian tentang keselamatan hidup, yaitu : bahwa apabila sudah berpegangan kepada agama yang berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa sajalah, maka manusia (buruan) itu akan selamat dari terkaman iblis (pemburunya). Di samping itu diajarkannya pula nyanyian-nyanyian untuk kanak-kanak yang bersifat paedagogis serta berjiwa agama, Di antaranya adalah berupa 'tembung dolanan bocah' (lagu permainan anak-anak), yang berbunyi sebagai berikut :
"Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nundang bagog hangatikar", yang dalam bahasa indonesianya kira-kira begini :

"Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit".
Adapun maksud dari tembang tersebut di atas itu adalah : Agama Islam (bulan) telah datang memberi penerangan hidup, maka marilah segera orang menuntut penghidupan (dolanan, bermain) di bumi ini (latar, halaman) akan mengambil manfaat ilmu agama Islam (padang, gilar-gilar, terang benderang) itu, agar sesat kebodohan diri (begog, gelap) segera terusir.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.
Sesudah beliau wafat, kemudian dimakamkan di atas bukit Giri (Gresik). Setelah Sunan Giri meninggal dunia, berturut-turut digantikan oleh Sunan Delem, Sunan Sedam Margi, Sunan Prapen.

7.Raden Said (Sunan Kalijogo)
Raden.Mas Syahid atau yang kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga., adalah putera dari Ki Tumenggung Wilatika, bupati Tuban, ada pula yang mengatakan, bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sabur Tumenggung Wilatika, dikatakan dalam riwayat, bahwa dalam perkawinannya dengan Dewi Saroh Binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga juga memperoleh 3 orang putera, masing-masing : .R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh sunan kalijaga (periode demak) diberi motif "burung" di dalam beraneka macam. sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi, burung itu disebut "kukila" dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata : "quu" dan "qilla" atau "quuqiila", yang artinya "peliharalah ucapan (mulut)-mu.

Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya, inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju "takwo", nama tersebut berasal berasal dari kata bahasa arab "taqwa" yang artinya ta'at serta berbakti kepada Allah SWT.

Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

8.Raden Umar Said (Sunan Muria)
Sunan Muria dilahirkan dengan nama Raden Umar Said atau Raden Said. Menurut beberapa riwayat, dia adalah putra dari Sunan Kalijaga  yang menikah dengan Dewi Soejinah, putri Sunan Ngudung.

Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.

Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.

Nama Sunan Muria sendiri diperkirakan berasal dari nama gunung (Gunung Muria), yang terletak di sebelah utara kota Kudus, Jawa Tengah tempat dia dimakamkan.

9.Syarif Hidayatullah (Sunan Gunungjati)
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa  bernama Wali Songo. 
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon.